YAYASAN IDRISSIYAH AL ISTIQOMAH PLATAR
(Y  I  A  P)



PONDOK YATIM DAN DHUAFA ALISTIQOMAH



Anak yatim adalah fenomena sosial yang selalu ada di masyarakat baik masyarakat maju maupun negara berkembang. Disetiap daerah selalu ada anak yatim yang membutuhkan pendidikan, penghidupan dan lain-lain, ironisnya mereka masih kurang mendapatkan bantuan secara sistematis dan terpadu dari pemerintah ataupun lingkungannya.

Kata yatim/yatimah berarti anak kecil yang kehilangan atau ditinggal mati oleh ayahnya sebelum dia baligh (Lisanul ‘Arab, 12/645, al-Mu’jam al-Wasith, 2/1063)


Kondisi anak-anak yatim menyebabkan hilangnya harapan mereka untuk menjalani hidupnya, terutama bagi anak yatim yang kurang mampu. Anak yatim adalah anak yang ayahnya sudah meninggal. Menampung dan menyantuni anak yatim yang berasal dari keluarga tidak mampu tujuannya untuk membantu para anak yatim agar dapat menyelesaikan pendidikan formalnya sesuai dengan pendidikannya. Anak-anak harus mendapatkan perhatian yang serius, jangan sampai mereka terlantar karena keterbatasan ekonomi keluarganya, mereka harus dibantu agar bangkit dari keterpurukan dengan cara merangkul dan mengenalkan mereka dengan pendidikan, sehingga kita memiliki calon-calon pemimpin yang memadai di masa mendatang.


Seorang anak yang dibesarkan tanpa ayah harus mengatasi sendiri ketidakhadiran sosok ayah tersebut. Kemungkinan, dia akan menciptakan citra ayah dari gambaran mitos tentang sosok ayah. Beberapa anak laki-laki, yang tidak mengenal sosok ayah, mencari figur-figur ayah yang bisa ditiru diluar. Sering kali, mereka kemudian tersesat menjadi anggota geng, terjun kedalam gerakan politik, atau menjadi anggota sekte, sebuah daya tarik yang menawarkan panduan yang jelas tentang kehidupan. Mereka juga punya kecenderungan yang sangat besar untuk menyalahgunakan alkohol dan zat-zat terlarang.


Saat ayah tidak hadir di keluarga seorang anak harus menemukan sendiri alasan kepergian sang ayah. Saat mereka mulai remaja, beberapa anak ini kemudian ‘berpikir’ dan berfantasi bahwa ketidakhadiran ayahnya adalah akibat ‘perilakunya’. Alasan yang dia ciptakan sendiri tersebut dapat menyebabkan perasaan bersalah pada anak. Atau kemungkinan lain, jika pun tak ada perasaan itu, anak-anak ini memiliki perasaan sepi, perasaan terabaikan, dan perasaan terisolasi yang sangat dalam.


Sebagai seorang anak yang tidak memiliki orang tua dan harta, anak yatim jelas akan mengalami atau merasakan beban mental, sebab ia tidak bisa merasakan seperti anak-anak yang berkecukupan atau yang mempunyai orang tua dengan kasih sayang penuh. Untuk menumbuhkan mental yang baik bagi anak yatim, maka dibutuhkan perhatian yang penuh dari para pengasuhnya.


Hadirnya tokoh pelindung yang mampu memenuhi rasa aman para anak yatim akan mengurangi dampak negative dari kondisi keyatimannya. Menurut pandangan ini keyatiman justru akan membuat si yatim kuat dan tabah serta memberi peluang untuk mengembangkan sikap mandiri. Dengan kata lain, keyatiman merupakan kondisi potensial untuk mengembangkan kedewasaan secara lebih cepat dan mantap. Hal ini tentu bisa terwujud jika para pengasuhnya mampu melakukan pembinaan mental secara tepat (Bastaman, 1995:172).


Menilik kondisi di masyarakat, ironisnya pemberi bantuan dan penyantun anak yatim piatu merasa telah cukup untuk menyerahkan bantuan finansial kepada panti asuhan atau anak kurang mampu, tanpa menyumbangkan pemikiran untuk penggunaan dana tersebut bagi pemberdayaan anak. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya donatur telah memercayakan sepenuhnya pengelolaan dana tersebut kepada pihak pengasuh. Sedangkan dari pihak pengasuh, karena keterbatasan tenaga, pemikiran, dan kemampuan lainnya sering tidak berpikir tentang program yang menyangkut pemberdayaan anak, yang sangat dibutuhkan untuk masa depan mereka, yaitu pendidikan.


Kenyataan membuktikan bahwa sampai saat ini pemerintah belum mampu menyediakan sarana pendidikan yang memadai untuk anak yatim agar dapat mengenyam pendidikan secara cuma-cuma. Untuk mengurusi pendidikan bagi anak yatim ini diperlukan suatu lembaga atau yayasan yang menanganinya.


Pentingnya pemberdayaan bagi anak yatim yaitu sebagai penguat bagi anak yatim agar anak yatim memiliki keberdayaan yang mandiri. Mandiri adalah suatu suasana dimana seseorang mau dan mampu mewujudkan kehendak atau keinginan dirinya yang terlihat dalam tindakan atau perbuatan nyata guna menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) demi pemenuhan kebutuhan hidupnya dan sesamanya (Antonius, 2000: 145).


Dalam struktur komunitas di masa sekarang dimana kehidupan keluarga serba sulit, yang paling bertanggung jawab terhadap kehidupan anak yatim tidak hanya dibebankan pada kerabat dan keluarga dekat saja. Seluruh masyarakat sekitar pun harus bertanggung jawab terhadap kehidupan anak yatim.


Dari demikianlah kami atas nama pengasuh pondok  Yatim Al-Istiqomah yang baru kami rintis  tahun 2019  dan dikhususkan untuk anak yatim. Di Pondok Yatim Al Istiqomah ini mampu menampung dan membantu anak-anak yatim yang sangat membutuhkan perhatin dan kepedulian kita semua, pendidikan karakter kemandirian sangat kami tekankan disamping pendidikan Formal maupun non formal, mengajarkan mereka untuk melakukan kegiatan yang positif , dan menyalurkan hobi dan kreatifitas anak yatim di luar sekolah. Selain itu juga dalam kehidupan anak yatim dibekali iman dan takwa dalam kegiatannya sehari- hari. Kegiatan anak yatim ini diisi dengan berbagai kegiatan yang nantinya bisa meningkatkan kualitas diri mereka sehingga memiliki bekal ketika menjalani kehidupan sosialnya nanti. Bekal agar mereka mampu hidup mandiri dengan tidak bergantung pada orang lain.


Pesantren Yatim Al-Istiqomah merupakan lembaga penitipan infaq, zakat, sodakoh, dan wakaf khusus anak yatim. Selain menampung dana, Pesantren Yatim Al-Istiqomah juga menyalurkan dana bagi anak-anak yatim di tempat lainnya. Kemudian anak- anak yatim ditampung dan diberdayakan agar dapat menjadi pribadi yang baik, karena di Pesantren Yatim Al-Istiqomah anak-anak yatim lebih di fokuskan pada kehidupan keagamaannya seperti menghafal Al-Qur’an agar mampu menjadi teladan yang baik.


Pesantren yatim ini didirikan di satu desa yang jauh dari kota yaitu Desa Kesugihan Dusun Platar Rt04/Rw 04 Kecamatan Kesugihan, Kab. Cilacap Jawa Tengah. Sekitar setengah jam perjalanan dari kota Cilacap atau satu jam dari kota Purwo Kerto


Sesuai dengan kesepakatan pengurus, Sumber dana untuk oprasional bulanan kami Swadaya dari para dermawan yang dengan tulus iklas untuk berbagi. Di pesantren yatim Al-Istiqomah mempunyai jamaah atau kelompok ,yang bernama ; Gebuklas Al-Istiqomah ,kepanjangan dari gerakan seribu iklas untuk pesantren Al istiqomah. Dari Donatur Gebuklaslah kami menanggung semua oprasional bulanan untuk anak-anak yatim yang kami asuh,Dari mulai Biaya sekolah ,makan sehari-hari dan uang saku tentunya.disamping pendidikan formal dan non formal kami mengajak anak didik untuk bisa hidup mandiri, dengan cara melakukan pekerjaan rumah yang ringan-ringan sendiri.dan pembelajaran ekstra ,dengan home industri dari salah satu pengurus kami.diataranya menjahit dari ,pembuatan kasur bayi ,sarung bantal dan seprai ,yang kebetulan lokasi berdampingan dengan pondok yatim dan dhuafa Al –Istiqomah.Dengan harapan sehabisnya anak-anak selesai belajar di pesantren Yatim Al istqomah, disamping berhasil dibidang akademik tentunya mereka juga mempunyai ketrampilan untuk bisa mandiri dalam menyongsong masa depan. Pesantren yatim al-Istiqomah mempunyai program unggulan untuk anak didik kami yaitu Tahfidzul Qur’an.


Selain tahfidzul qur’an ada program lainya diantaranya

1.Kajian nahwu sorof

2.Kajian kitab Kuning

3. Madin Al-Istiqomah


Progam Tahfidz . dengan Metode 3 T +1M. Yaitu :

1.      Talqin atau tasmi’

Talqin berarti seorang ustazd membacakan al-Qur’an untuk kemudian diikuti oleh muridnya. Adapun tasmi’ berarti membaca al-Quran untuk didengarkan olehustadz

2.      Tafahhum

Arti Tafahhum adalah memahami arti dari bacaan Al-Qur’an yang akan dihafal.tentunya tidak semua orang harus melalui thapan ini dalam menghafal.yang dianjurkan untuk memehami al-Qur’ansaat menghafal adalah mereka yang berusia remaja atau dewasa


3.Tikrar

Tikrar berarti : mengulang-ulang bacaan hingga hafal. Caranya:

a.       Baca ayat pertama hingga 10-20 kali hingga hafal

b.      Lalu baca ayat kedua sebanyak 10-20 hingga hafal

c.       Baca ayat pertama dan kedua 10-20 kali hingga hafal

d.      Lalu baca ayat ketiga sebanyak 10-20 hingga hafal

e.       Kembali baca ayat pertama=kedua+ketiga sebanyak 10-20 kali hingga hafal

f.       Dan seterusnya


3.      Murojaah

Murojaah : mengulang-ulang hafalan yang sudah dikuasai.Murajaah sangat penting karena muajaah inilah yang akan melekatkan hafalan secara kuat ke dalam benak sanu baru para penghafal Al-Qu’an.https//unida.ac.id.

Di samping muroja’ah sendiri di pesantren Yatim AL-Istiqomah ada program murojaah dengan kelompok santri dan Muroja’ah dengan kelompokMasyarakat sekitar.dengan istilaah Sema’an.

Semaan adalah pembacaan Ayat-ayat Qur’an dalam satu majelis yang satu membaca dengan tidak melihat Al-Qur.an yang lainnya mendengarkan dengan tujuan membenarkan bacaan apabila ada yang salah.htpps//NU online.co.id.com


Pesantren yatim. Walaupun Pesantren yatim yang dibangun masih kecil, tapi jauh lebih baik dibandingkan bangunan sebelumnya. Sejak itu jamaah pengajian mulai diperlebar. Selain anak yatim, anak dhuafa sekitar Pesantren juga diajak untuk pengajian yang dilakukan setiap hari. Jamaah pengajian ibu-ibu pun diperlebar. Selain ibu dari anak yatim, ibu-ibu sekitar Pesantren diajak untuk ikut dalam pengajian tersebut.


Sebagai lembaga kesejahteraan sosial yang mengasuh anak yatim yang berbeda latar belakang keluarga asalnya menimbulkan variasi anak dalam bersikap dan bertindak dalam. Dari itulah anak harus mendapatkan pengarahan dan bimbingan untuk pembentukan kedewasaan diri yang mana diperoleh dengan pendidikan yang dilakukan sejak dini. Memang tidak mudah dan tentu banyak kendala-kendala yang dihadapi disebabkan kemandirian anak yang belum tumbuh, kurangnya pengetahuan agama dan minimnya anak dalam mengamalkan ajaran agama.


Komentar